“Indische Partij 1912: Saat Politik Pertama Kali Menantang Kolonialisme Belanda”
Tim Dahoeloe.co
Awal abad ke-20 menjadi periode penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Penerapan Politik Etis oleh pemerintah kolonial Belanda memang memberikan kesempatan pendidikan kepada sebagian masyarakat pribumi. Namun, kebijakan tersebut juga mendorong tumbuhnya kesadaran terhadap berbagai ketidakadilan yang dialami rakyat di bawah pemerintahan kolonial. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan sejumlah organisasi pergerakan, seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam, meskipun pada masa awal keduanya belum secara tegas menempatkan diri sebagai organisasi politik.
Perkembangan penting terjadi pada 25 Desember 1912 dengan berdirinya Indische Partij di Bandung. Partai ini didirikan oleh tiga tokoh yang dikenal sebagai Tiga Serangkai, yaitu Ernest Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Indische Partij menjadi partai politik pertama di Hindia Belanda yang secara terang-terangan memperjuangkan persamaan hak serta menumbuhkan semangat kebangsaan. Keistimewaan lainnya terletak pada keanggotaannya yang terbuka bagi masyarakat pribumi maupun keturunan Indo-Eropa yang menganggap Hindia sebagai tanah air mereka bersama.
Semangat perjuangan Indische Partij tercermin dalam semboyannya, “Indie voor Indier” yang berarti Hindia untuk orang Hindia. Melalui surat kabar De Express, para pendirinya menyebarluaskan gagasan mengenai persatuan, pemerintahan yang dijalankan sendiri, serta pentingnya menghapus diskriminasi berdasarkan ras. Salah satu tulisan yang paling berpengaruh adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) karya Ki Hajar Dewantara, yang berisi kritik keras terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda.
Sikap yang tegas dan kritis tersebut membuat pemerintah kolonial memandang Indische Partij sebagai organisasi yang membahayakan. Pada 4 Maret 1913, permohonan pengesahan partai ditolak dengan alasan dianggap mengganggu ketertiban dan keamanan umum. Setelah itu, para tokoh utamanya mengalami berbagai bentuk tekanan, termasuk pengasingan. Meskipun keberadaan Indische Partij berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, pengaruhnya sangat besar terhadap perkembangan pergerakan nasional. Organisasi ini menjadi pelopor bagi munculnya partai-partai politik berikutnya sekaligus menjadi salah satu tonggak penting dalam pertumbuhan nasionalisme Indonesia menuju kemerdekaan.